Jakarta, Digitalstory.id – Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto meminta Polisi Militer TNI AU mendalami keterangan ayah almarhum yang menyebut dugaan penganiayaan bermula dari persoalan salah membeli mie.
Menurutnya, informasi tersebut harus diperiksa dan dibuktikan melalui proses penyelidikan agar tidak terjadi kesimpulan sepihak sebelum seluruh fakta terungkap.
“Namun pada saat yang sama, setiap dugaan kekerasan terhadap prajurit harus ditanggapi secara serius. Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan kekerasan apabila memang terbukti terjadi,” ujarnya kepada awak media, Selasa (15/09/2026).
Sebagai pimpinan Komisi I DPR RI, Anton mempercayakan proses penyelidikan dan pengusutan kepada Polisi Militer TNI AU agar dilakukan secara profesional, transparan, objektif, dan tuntas.
Ia berharap seluruh fakta dapat terungkap secara utuh sehingga keluarga almarhum memperoleh keadilan. Di sisi lain, Anton menilai TNI perlu terus memperkuat profesionalisme serta budaya pembinaan prajurit yang tegas, disiplin, tetapi tetap humanis.
“Yang paling penting, kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali,” pungkas Anton.
Sebelummya, dilansir dari detikjatim ayah almarhum Serda Ahmad Muzammil Farisa, Toni Eko Prasetyo menyampaikan permohonan khusus kepada Presiden Prabowo Subianto hingga Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) agar kasus tewasnya sang anak diusut secara tuntas dan adil.
“Mohon kepada pak Presiden (Prabowo), pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya,” kata Toni kepada detikJatim di rumah duka Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, Jumat dini hari (11/9/2026).
Toni menegaskan bahwa dugaan aksi perpeloncoan atau penganiayaan oleh senior seharusnya tidak boleh terjadi, terlebih di lingkungan Mabes TNI AU. Dengan mata sembap menahan tangis, ia berharap pucuk pimpinan TNI bergerak tegas agar kejadian serupa tak lagi memakan korban jiwa prajurit muda.
Menurut keterangan Toni, Serda Ahmad diduga menjadi korban penganiayaan oleh empat orang seniornya saat berada di asrama pada Kamis (10/9) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Kabar duka tersebut sempat diwarnai simpang siur informasi sebelum fakta penganiayaan terungkap.
“Saya dapat info saat sudah meninggal pukul 03.00 WIB tadi pagi. Saya di hubungi oleh temannya almarhum pukul 04.00 WIB,” papar Toni.
“Pukul 04.00 WIB saya di hubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Tapi ada teman lainnya menginfokan jika tidak kecelakaan tapi di aniaya senior,” tandas Toni.
Sementara itu, jenazah almarhum Serda Ahmad Muzammul Farisa akhirnya tiba di rumah duka menggunakan ambulans TNI AU pada Jumat (11/9) sekitar pukul 01.00 WIB dini hari.
Usai disalatkan, jenazah langsung dimakamkan. Prosesi pelepasan dan salat jenazah turut dihadiri oleh Pj Bupati Madiun H Hari Wuryanto beserta jajaran ASN Pemkab Madiun.
